<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Khaciiandech's Blog</title>
	<atom:link href="http://khaciiandech.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://khaciiandech.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 May 2009 13:10:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='khaciiandech.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/c4aab91a6f31b82f2de3ae25a364ccaa?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Khaciiandech's Blog</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://khaciiandech.wordpress.com/osd.xml" title="Khaciiandech&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://khaciiandech.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>perenungan &#8230;</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/05/10/perenungan/</link>
		<comments>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/05/10/perenungan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 07:14:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khaciiandech</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi quh ..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khaciiandech.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[_bintang yang ku tunjuk cahayanya perlahan berubah kelam hancur jatuh berantakan padahal belum sempat ku utaraka sajak-sajak cinta yang tercipta karenanya _taman langit seolah suram petang tak benderang tak membuat hatiku berteman., _bintang hati telah lebur terganti namun tiada arti sajak ku suram tak ada setitik terang _mungkin inikah akhir cerita cinta di tengah malam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=176&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<li><span style="color:#33cccc;">_bintang yang ku tunjuk<br />
cahayanya perlahan berubah kelam<br />
hancur jatuh berantakan<br />
padahal belum sempat ku utaraka sajak-sajak cinta yang tercipta karenanya</p>
<p>_taman langit seolah suram<br />
petang tak benderang tak membuat hatiku berteman.,</p>
<p>_bintang hati telah lebur terganti<br />
namun tiada arti<br />
sajak ku suram tak ada setitik terang</p>
<p>_mungkin inikah akhir cerita cinta di tengah malam terhias purnama menyatu dalam angin melantun pilu</p>
<p>_purnama itu terluka,bercucur air mata di tahan dengan senyum sayup merekat dengan cinta dalam pertemuan di iringi sepatah kata</p>
<p>“ini yang terbaik” bisikmu</p>
<p>_daun menari sendu angin melantun pilu perpisahan memang harus tercipta</p>
<p>_malam merapat pulang<br />
di tengah sesal jalan ku kini terkikis kelam</span>.</li>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khaciiandech.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khaciiandech.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khaciiandech.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khaciiandech.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khaciiandech.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khaciiandech.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khaciiandech.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khaciiandech.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khaciiandech.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khaciiandech.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khaciiandech.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khaciiandech.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khaciiandech.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khaciiandech.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=176&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/05/10/perenungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a077d9caa1acb3c0a7a518108f2b3ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khaciiandech</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pendidikan yang bermoral ..</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/pendidikan-yang-bermoral-2/</link>
		<comments>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/pendidikan-yang-bermoral-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 10:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khaciiandech</dc:creator>
				<category><![CDATA[education ..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khaciiandech.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Artikel: PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION. Nama &#38; E-mail (Penulis): Amirul Mukminin Saya Dosen di UPT &#8211; Kebahasaan UNJA/ASM Jambi, Manager LPK Bahasa Inggris-MEC Tanggal: 23 January 2003 Judul Artikel: PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL Topik: Pendidikan Nasional Artikel: Oleh Amirul Mukminin Memang harus kita akui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=126&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pendidikan.net/"><img src="http://re-searchengines.com/judul.gif" border="0" alt="" /></a></p>
<h2><span style="color:#000099;">Artikel:<br />
PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL </span></h2>
<p><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong> Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.<br />
Nama &amp; E-mail (Penulis): <a href="mailto:Amirmuk@yahoo.com">Amirul Mukminin</a><br />
Saya Dosen di UPT &#8211; Kebahasaan UNJA/ASM Jambi, Manager LPK Bahasa Inggris-MEC<br />
Tanggal: 23 January 2003<br />
Judul Artikel: PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL<br />
Topik: Pendidikan Nasional </strong></span></p>
<p><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Artikel: Oleh Amirul Mukminin </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang &#8211; menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL<br />
Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (saya tidak ingin mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun kenyataanya demikian di masyarakat). Lalu apa hubungannya Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi Penerus? Hubungannya sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Apa yang telah terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai sumbangan pendidikan nasional kita selama ini. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif semuanya orang-orang yang berpendidikan bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Contoh lainnya, dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak).</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan (&#8220;bangsat&#8221;) dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya (untungsnya, NEM sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang saya maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik kearah kedewasaan, kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral pula. Dimana ketika berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan di SD sampai PT sang pendidik harus memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai PT memiliki sifat-sifat seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Kedua, Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya terpaku pada perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas. Misalkan kurikulum sudah dirubah, anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas sudah dilengkapi dan gaji guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik (guru atau dosen) dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum memiliki sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan akibat yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda akan sama seperti sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi menyudutkan guru atau dosen dan birokrat pendidikan serta pembuat kebijakan sebagai penyebab terpuruknya proses pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku menyimpang dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau menginginkan generasi seperti diatas. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Selain itu, anggaran pendidikan yang tinggi belum tentu akan mengubah dengan cepat kondisi pendidikan kita saat ini. Malah anggaran yang tinggi akan menimbulkan KKN yang lebih lagi jika tidak ada kontrol yang ketat dan moralitas yang tinggi dari penguna anggaran tersebut. Dengan anggaran sekitar 6% saja KKN sudah merajalela, apalagi 20-25%.</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Ketiga, Berlaku adil dan Hilangkan perbedaan. Ketika saya masih di SD dulu, ada beberapa guru saya sangat sering memanggil teman saya maju kedepan untuk mencatat dipapan tulis atau menjawab pertanyaan karena dia pintar dan anak orang kaya. Hal ini juga berlanjut sampai saya kuliah di perguruan tinggi. Yang saya rasakan adalah sedih, rendah diri, iri dan putus asa sehingga timbul pertanyaan mengapa sang guru tidak memangil saya atau yang lain. Apakah hanya yang pintar atau anak orang kaya saja yang pantas mendapat perlakuan seperti itu.? Apakah pendidikan hanya untuk orang yang pintar dan kaya? Dan mengapa saya tidak jadi orang pintar dan kaya seperti teman saya? Bisakah saya jadi orang pintar dengan cara yang demikian?</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Dengan contoh yang saya rasakan ini (dan banyak contoh lain yang sebenarnya ingin saya ungkapkan), saya ingin memberikan gambaran bahwa pendidikan nasional kita telah berlaku tidak adil dan membuat perbedaan diantara peserta didik. Sehingga generasi muda kita secara tidak langsung sudah diajari bagaimana berlaku tidak adil dan membuat perbedaan. Jadi, pembukaan kelas unggulan atau kelas akselerasi hanya akan membuat kesenjangan sosial diantara peserta didik, orang tua dan masyarakat. Yang masuk di kelas unggulan belum tentu memang unggul, tetapi ada juga yang diunggul-unggulkan karena KKN. Yang tidak masuk kelas unggulan belum tentu karena tidak unggul otaknya tapi karena dananya tidak unggul. Begitu juga kelas akselerasi, yang sibuk bukan peserta didik, tapi para orang tua mereka mencari jalan bagaimana supaya anaknya bisa masuk kelas tersebut. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Kalau mau membuat perbedaan, buatlah perbedaan yang bisa menumbuhkan peserta didik yang mandiri, bermoral. dewasa dan bertanggungjawab. Jangan hanya mengadopsi sistem bangsa lain yang belum tentu cocok dengan karakter bangsa kita. Karena itu, pembukaan kelas unggulan dan akselerasi perlu ditinjau kembali kalau perlu hilangkan saja. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Contoh lain lagi , seorang dosen marah-marah karena beberapa mahasiswa tidak membawa kamus. Padahal Dia sendiri tidak pernah membawa kamus ke kelas. Dan seorang siswa yang pernah belajar dengan saya datang dengan menangis memberitahu bahwa nilai Bahasa Inggrisnya 6 yang seharusnya 9. Karena dia sering protes pada guru ketika belajar dan tidak ikut les dirumah guru tersebut. Inikan! contoh paling sederhana bahwa pendidikan nasional kita belum mengajarkan bagaimana berlaku adil dan menghilangkan Perbedaan. </strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khaciiandech.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khaciiandech.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khaciiandech.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khaciiandech.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khaciiandech.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khaciiandech.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khaciiandech.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khaciiandech.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khaciiandech.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khaciiandech.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khaciiandech.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khaciiandech.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khaciiandech.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khaciiandech.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=126&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/pendidikan-yang-bermoral-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a077d9caa1acb3c0a7a518108f2b3ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khaciiandech</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://re-searchengines.com/judul.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia kehabisan guru ..</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/indonesia-kehabisan-guru-2/</link>
		<comments>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/indonesia-kehabisan-guru-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 09:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khaciiandech</dc:creator>
				<category><![CDATA[education ..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khaciiandech.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Artikel: Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum. Nama &#38; E-mail (Penulis): Mochammad Asyhar Saya Mahasiswa di Depok Tanggal: 04/11/2002 Judul Artikel: Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru Topik: Kebijakan Pendidikan Artikel: Hari-hari terakhir ini sedang gencar ditayangkan dua iklan layanan masyarakat di setasiun-stasiun televisi, baik TVRI maupun stasiun televisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=128&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pendidikan.net/"><img src="http://re-searchengines.com/judul.gif" border="0" alt="" /></a></p>
<h2><span style="color:#000099;">Artikel:<br />
Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru </span></h2>
<p><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong> Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.<br />
Nama &amp; E-mail (Penulis): <a href="mailto:masyhar@hotmail.com">Mochammad Asyhar</a><br />
Saya Mahasiswa di Depok<br />
Tanggal: 04/11/2002<br />
Judul Artikel: Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru<br />
Topik: Kebijakan Pendidikan </strong></span></p>
<p><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Artikel: </strong> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"> Hari-hari terakhir ini sedang gencar ditayangkan dua iklan layanan masyarakat di setasiun-stasiun televisi, baik TVRI maupun stasiun televisi swasta. Iklan yang satu berisi pesan tentang anak asuh dan yang lain melukiskan kekurangan guru di negeri kita tercinta ini. Walaupun hanya berdurasi beberapa detik, kedua iklan ini cukup mengundang perhatian, terutama iklan yang disebutkan terakhir.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Kekurangan guru. Sungguh sebuah realitas potret pendidikan kita (salah satu sisi) yang sangat menyedihkan. Betapa tidak, pendidikan adalah modal utama terciptanya kemajuan peradaban sebuah bangsa. Di pihak lain, guru sebagai tenaga profesional di bidang ini justru jumlahnya semakin langka.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Lalu, apa jadinya jika pada tahun-tahun mendatang tidak mudah dijumpai sosok guru? Barangkali Anda semua sudah tahu jawabannya. Sudah pasti peradapan kebudayaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini semakin parah daripada kondisi sekarang. Mengapa sampai terjadi kondisi seperti ini?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">KILAS BALIK<br />
Keadaan pendidikan seperti dipaparkan pada bagian sebelumnya tentu tidak terjadi bagitu saja. Hal itu pasti ada pemicunya. Penyebab kekeurangan guru yang akan saya paparkan di sini bukan berasal dari hasil penelitian mendalam, tetapi sekadar pengamatan sekilas dan dugaan. Penyebab penurunan jumlah sumber daya manusia (SDM), dalam hal ini guru, akhir-akhir adalah ditutupnya lembaga-lembaga pendidikan keguruan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Pada paruh pertama tahun 1990-an semua Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Pendidikan Guru Agama (PGA) ditutup. Penutupan lembaga pendidikan tersebut beralasan bahwa jenjang pendidikan dasar sudah tidak layak lagi diajar oleh guru-guru tamatan SPG yang notabene hanya berjenjang pendidikan menengah. Sebagai gantinya dibukalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Selain itu, sebelum penutupan lembaga-lembaga pendidikan keguruan itu didahului dengan lahirnya sebuah kebijakan yang menetapkan bahwa lulusan SPG tidak otomatis atau langsung diangkat sebagai pegawai negeri, kecualai beberapa orang siswa berprestasi pada tiap angkatan. Akibatnya, banyak lulusan SPG yang beralih ke profesi lain, misalnya pekerja pabrik atau tambak. Fakta seperti ini sangat disayangkan karena para siswa SPG adalah siswa pilihan. Lulusan SLTP yang dapat diterima di SPG adalah siswa yang mempunyai NEM minimum 42,00 dan harus melalui ujian saringan yang bertahap-tahap. Hal itu menunjukkan bahwa yang dapat d iterima di SPG adalah manusia-manusia cerdas dan pilihan. Jadi, mereka sebenarnya adalah tenaga-tenaga potensial.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Berikutnya, menjelang akhir tahun 2000, semua IKIP di Indonesia berubah menjadi universitas meskipun masih ada beberapa STKIP dan FKIP di universitas-universitas. Perubahan status ini tentunya diikuti juga perubahan visi dan misi. Semula berstatus Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK)sebagai pencetak tenaga-tenaga pendidik profesional berubah menjadi universitas yang mencetak sarjana-sarjana ilmu murni. Barangkali kebijakan ini bertujuan untuk mencapai target sarjana-sarjana andal di bidang IPTEK dalam rangka menyongsong lahirnya Negara Indonesia sebagai negara maju berbasis teknologi. Obsesi seperti ini sangat bagus. Akan tetapi, penyakit latah bangsa Indonesia ini sukar sekali hilang. Artinya, pada waktu kibijakan perubahan status IKIP menjadi universitas itu disetujui, seharusnya beberapa IKIP di Jawa, Sumatera dan Sulawesi yang sudah berkualitas tetap dipertahankan. Dengan demikian, jumlah guru nantinya tetap tercukupi karena sampai kapan pun sektor pendidikan di sebu ah bangsa tidak akan ditutup. Hal itu berarti bahwa sampai kapan pun tenaga guru masih dibutuhkan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">APA SOLUSINYA<br />
Kekurangan guru, seperti diilustrasikan dalam iklan layanan masyarakat di televisi, baru terjadi pada jenjang pendidikan dasar. Apabila diamati, fenomena ini cukup realistis menggingat penutupan SPG dan PGA sudah hampir sepuluh tahun yang lalu. Lulusan PGSD pun tidak semuanya dapat diterima sebagai pegawai negeri. Sementara itu, pada jenjang pendidikan menengah fenomena kekurangan guru masih belum terasakan. Hal itu wajar karena penutupan IKIP-IKIP baru dua tiga tahun terakhir. BISAKAH ANDA BAYANGKAN PADA TAHUN 2020 MENDATANG?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Untuk mengatasi persoalan kekurangan guru pada jenjang pendidikan dasar, barangkali buah pikiran saya ini dapat dijadikan bahan diskusi. Setelah kebijakan yang menghentikan pengangkatan tenaga guru sekolah dasar (SD), banyak lulusan SPG atau PGA beralih profesi ke bidang lain. Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi mengingat mereka adalah tenaga-tenaga pilihan. Ditambah lagi oleh sistem penerimaan mahasiswa PGSD. Dari awal dibukanya, PGSD menerima mahasiswa dari lulusan SMA. Materi soal tesnya pun disesuaikan dengan standar pengajaran di SLTA umum. Tentu saja hal ini merupakan kendala bagi lulusan SPG atau PGA untuk bersaing dengan lulusan SMA karena materi yang diajarkan di SLTA umum dan kejuruan sudah barang tentu berbeda. Akhirnya, para lulusasan SPG jarang yang diterima.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Pada saat perekrutan mahasiswa PGSD seharusnya yang diutamakan terlebih dahulu adalah lulusan SPG atau PGA. Baru kemudian setelah semua lulusan SPG atau PGA ini sudah habis, perekrutan dibuka untuk lulusan SMA.</span></p>
<p><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Akhirnya, untuk mengatasi persoalan kekurangan guru SD, mengapa tidak dicoba untuk memanggil kembali lulusan SPG dan PGA yang belum sempat diterima sebagai guru negeri? Beri mereka beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di PGSD atau STKIP. Setelah lulus langsung diangkat sebagai tenaga guru negeri.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khaciiandech.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khaciiandech.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khaciiandech.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khaciiandech.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khaciiandech.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khaciiandech.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khaciiandech.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khaciiandech.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khaciiandech.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khaciiandech.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khaciiandech.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khaciiandech.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khaciiandech.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khaciiandech.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=128&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/indonesia-kehabisan-guru-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a077d9caa1acb3c0a7a518108f2b3ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khaciiandech</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://re-searchengines.com/judul.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>pendidikan anti korupsi ..</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/pendidikan-anti-korupsi/</link>
		<comments>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/pendidikan-anti-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 09:58:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khaciiandech</dc:creator>
				<category><![CDATA[education ..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khaciiandech.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Artikel: Pendidikan Anti Korupsi Judul: Pendidikan Anti Korupsi Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum. Nama &#38; E-mail (Penulis): Y A N T O Saya Mahasiswa di FE UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG Topik: INVESTASI JANGKA PANJANG Tanggal: 17 AGUSTUS 2004 Pendidikan Anti Korupsi Oleh: Yanto Demokrasi menjadi tidak semanis kembang gula. Ketika tatanan hukum dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=130&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#ff6600;">Artikel:<br />
Pendidikan</span></h2>
<p><span style="color:#ff6600;"><img src="http://re-searchengines.com/judul.gif" border="0" alt="" /></span></p>
<h2><span style="color:#ff6600;"> Anti Korupsi</span></h2>
<p><span style="color:#ff6600;"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong> Judul: Pendidikan Anti Korupsi<br />
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.<br />
Nama &amp; E-mail (Penulis): <a href="mailto:yanto_sagu@yahoo.com">Y A N T O</a><br />
Saya Mahasiswa di FE UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG<br />
Topik: INVESTASI JANGKA PANJANG<br />
Tanggal: 17 AGUSTUS 2004</strong> </span><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"> Pendidikan Anti Korupsi<br />
Oleh: Yanto<br />
Demokrasi menjadi tidak semanis kembang gula. Ketika tatanan hukum dan sistem pendidikan terpisah dari rangkaiannya. Pendidikan anti korupsi diperlukan sebagai bagian integral untuk meluruskan demokrasi yang mengalami disfungsi. Dalam kamus lengkap Bahasa Indonesia terbitan Media Center diartikan sebagai hal atau keadaan tidak berfungsinya sesuatu secara wajar. Cita-cita luhur universal demokrasi adalah memberikan ruang kebebasan bagi setiap manusia untuk mendapatkan hak-hak kemanusiaannya itu sendiri.</span></span></p>
<p><span style="color:#ff6600;">Melihat kekacauan -dalam pengertian berjalannya sistem negara- maka menurut beberapa penelitian, Indonesia memang rentan mengalami gangguan atau distorsi. Dalam sebuah masyarakat majemuk, demokrasi dan nasionalisme memang sering menjadi sebuah dilema. Tuntutan-tuntutan demokratissai yang idealnya memperkuat nasionalisme, realitasnya juga memunculkan konflik-koflik etnis yang bisa membahayakan demokratisasi itu sendiri, yang bukan tidak mungkin lalu atas nama negara kebangsaan malah melahirkan pemerintahan otoriter baik sipil atau militer (Larry Diamond &amp; Marc F.Platner, terjemahan &#8220;nasionalisme, konflik etnis dan demokrasi, ITB Press,1998)</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;">Seorang Mohamad Hatta lebih dari setengah abad yang lalu mengatakan, korupsi ini adalah penyakit sosial yang membudaya ditengah kehidupan masyarakat Indonesia. Merujuk A. Mukti Fadjar sebagaimana penelitian Donald L. Horowitz mengenai demokrasi pada masyarakat majemukmenunjukkan bahwa demokrasi dan demokratisasi dapat mengalami kegagalan karena berbagai alasan seperti perlawanan dari kaum sipil atau militer yang terserobot , tiadanya kondisi sosial atau budaya kondusif, lembaga yang dirancang secara tidak tepat, dan pada banyak negara di Afrika, Asia, dan Eropa Timur adalah konflik etnis.</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;">Kemudian tidak terlalu salah kiranya jika pada perayaan kemerdekaan di bulan Agustus ini kita instropeksi diri. Ternyata lebih tepat jika bangsa ini masih disebut sebagai bangsa parasit. Masyarakat masih terlalu mudah diadu domba hingga melahirkan kerusuhan. Sikap kita masih sering mencurigai keberadaan kelompok masyarakat yang lain. Bahkan, kita tidak ambil peduli ketika gelombang ribuan pengungsi yang harus meninggalkan tempat hidupnya karena konflik.</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;">Dorongan untuk menegakkan demokrasi dan civil society ini harus dimulai dari gerakan yang sungguh-sungguh untuk memerangi korupsi maupun suap. Lembaga pemerintah anti korupsi tidak bisa berjalan dengan keterbatasannya yang disebabkan dibawah subordinasi kekukasaan. Negara ini harus benar-benar mebentuk tim yang independen untuk memberantas korupsi. Bahkan kalau perlu memeriksa seorang presidenpun bukannya sebatas pada Gubernur ataupun pembantu presiden saja. Termasuk kepala kepolisian.</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;">Kita dapat belajar dari pengalaman-pengalaman negara lain yang secara serius melakukan hal ini. Contohnya badan anti korupsi yang terkemuka dinegara-negara berkembang yaitu ICAC (independent Commision Againts Corruption ) di Hongkong. Dalam buku &#8220;Membasmi korupsi &#8221; karya Robert Klitgaard (2001:130) dapat ditelusuri mengapa dan bagaimana ICAC didirikan, dan bagaimana ICAC mencapai sukses dalam membersihkan korupsi dijajaran kepolisian Hongkong. Sebagaimana di Indonesia, banyak orang Hongkong yakin bahwa korupsi itu berurat -akar dalam kebudayaan Cina di Hongkong. Ada yang menarik kesimpulan fatalistik, dengan mengatakan bahwa usaha-usaha untuk mengurangi krupsi itu akan sia-sia. Kaum pesimistik dapat dengan mudah mengutip berbagai catatan kegagalan kampanye anti korupsi di masalalu.</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;">Namun pada tahun 1971 pemerintah Hongkong meloloskan sebuah undang-undang pencegahan suap yang brilian. Undang-undang itu memperluas kategori-kategori pelanggaran. Bagi mereka yang dicurigai, kekayaan pribadinya melampaui pendapatan, atau yang menikmati tingkat hidup diluar apa yang dimungkinkan oleh penghasilan, beban pembuktiannya beralih: mereka harus bisa membuktikan diri tidak bersalah. &#8220;Dalam setiap tuntutan terhadap seorang karena pelanggaran menurut undang-undang ini, beban memberikan pembelaan yang sah atau dalih yang dapat diterima terletak dipihak tertuduh.&#8221;(2001:139) Pendek kata ini merupakan pembalikkan dari asas praduga tak bersalah yang lazim digunakan seperti di Indonesia. Mampukah kita menata hukum kita demikian? Tentunya kita masih harus mengkorelasikan antara pendidikan anti suap dengan sistem hukum nasional.</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;">Pelaksanaan pemilu 2004 yang dilangsungkan secara aman dan relatif lebih baik daripada pemilu masa lampau belum memberikan arti apa-apa jika tidak diikuti dengan kemauan mengkoreksi tatanan hukum nasional. Menarik sekali mencermati apa yang dikatakan oleh Satjito Rahardjo (1990-1), bahwa Negara Republik Indonesia yang berdasarkan atas hukum (NBHI) adalah suatu bangunan yang belum selesai disusun dan masih dalam proses pembentukannya yang intensif&#8221;. Pertanyaannya adalah beranikah para anggota DPR beserta DPD yang terpilih merumuskan tatanan baru yang lebih kondusif?</span></p>
<p><span style="color:#ff6600;">Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Demokrasi dinegara ini masih teramat rapuh. Ketamakan politisi sipil telah mengalihkan fungsi legilatif dari yang sepatutnya. Pembahasan undang-undang dan sebagainya tidak mencerminkan adanya perubahan mendasar. Sehingga kasus-kasus kudeta terselubung terhadap demokrasi mudah saja terjadi. Coba lihat kasus impor gula. Ternyata dibalik regulasi atau kebijakan yang seakan-akan memihak pada rakyat, penguasa negara sendiri yang melakukan kejahatan. Belum lagi kasus pemanfaatan aparatur hukum sebagai bidak-bidak catur politik untuk melanggengkan kekuasaan. Aparat negara negara yang berselingkuh dengan kepentingan politik tentunya karena mendapat imbal suap. </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khaciiandech.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khaciiandech.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khaciiandech.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khaciiandech.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khaciiandech.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khaciiandech.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khaciiandech.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khaciiandech.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khaciiandech.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khaciiandech.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khaciiandech.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khaciiandech.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khaciiandech.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khaciiandech.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=130&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/pendidikan-anti-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a077d9caa1acb3c0a7a518108f2b3ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khaciiandech</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://re-searchengines.com/judul.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>sekolah berbasis realitas</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/sekolah-berbasis-realitas/</link>
		<comments>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/sekolah-berbasis-realitas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 09:37:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khaciiandech</dc:creator>
				<category><![CDATA[education ..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khaciiandech.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Artikel: Sekolah Kehidupan Berbasiskan Realitas   Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan. Nama &#38; E-mail (Penulis): Lidus Yardi SpdI Saya Pengamat di Kuansing, Riau Tanggal: 24 Januari 2004 Judul Artikel: Sekolah Kehidupan Berbasiskan Realitas Topik: Mengkritisi Program Sekolah &#8220;Fullday&#8221; Sekolah Kehidupan Berbasiskan Realitas (Kritik Atas Gagasan Program &#8220;Fullday&#8221;) oleh Lidus Yardi Sadar atau tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=133&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#000099;"></p>
<h2><font color="#000099">Artikel:<br />
Sekolah Kehidupan Berbasiskan Realitas </font></h2>
<p></span></h2>
<p> </p>
<table border="0" width="85%">
<tbody>
<tr>
<td><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.<br />
Nama &amp; E-mail (Penulis): <a href="mailto:lidusyardi@yahoo.com">Lidus Yardi SpdI</a><br />
Saya Pengamat di Kuansing, Riau<br />
Tanggal: 24 Januari 2004<br />
Judul Artikel: Sekolah Kehidupan Berbasiskan Realitas<br />
Topik: Mengkritisi Program Sekolah &#8220;Fullday&#8221;</p>
<p align="justify">Sekolah Kehidupan Berbasiskan Realitas (Kritik Atas Gagasan Program &#8220;Fullday&#8221;)<br />
oleh Lidus Yardi</p>
<p>Sadar atau tidak sadar, kebanyakan sekolah di tanah air saat ini sedang melaksanakan program yang disebut sebagai &#8220;fullday&#8221;. Program fullday yang dimaksud adalah di mana proses pembelajaran dilaksanakan sehari penuh di sekolah yang dilaksanakan oleh pihak sekolah. Dengan kebijakan seperti ini maka waktu dan kesibukan anak-anak lebih banyak dihabiskan di lingkungan sekolah ketimbang di rumah. Anak-anak dapat berada di rumah lagi bila menjelang sore.</p>
<p>Alasan positif yang dapat dikemukakan bila program fullday dilaksanakan, yaitu anak-anak akan menghabiskan waktunya hampir sehari penuh bersama guru dan temannya, yang kemudian dapat membentuk tata pergaulan dan ukhwah dalam suasana interaksi dan sosialisasi yang bernuansa akademis. Di samping itu, anak didik juga terhindar dari tawuran antarsekolah dan kegiatan yang tak bermanfaat di rumah.</p>
<p>Sedangkan dampak negatif program fullday yang dikemukakan adalah, anak didik akan kelelahan setiba di rumah, kemudian tidur, dan malamnya pun mereka dituntut untuk belajar. Artinya, tidak efektifnya waktu di rumah untuk anak-anak dengan dilaksanakannya program fullday di sekolah. Oleh sebab itu di sini dituntut kearifan para orang tua di rumah. Demikianlah menurut sebagian ahli pendidikan tentang program fullday ini. Meskipun demikian program fullday dinilai lebih banyak manfaatnya, karenanya ia terus di praktekkan. Alasan lain dari perlunya program fullday adalah untuk memacu perkembangan sumber daya manusia, karenanya pula pihak sekolah yang mempraktekkan program itu tidak merasa memiliki &#8220;dosa&#8221;.</p>
<p>Padahal, yang terbayang dari gagasan ini adalah bahwa anak didik seakan-akan hanya memerlukan suasana akademis yang penuh dengan peraturan dan pengawasan, serta tetek bengek urusan sekolah lainnya. Konsekwensi dari diadakannya program fullday itu yang terparah adalah, anak didik akan jauh dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan realitas kehidupan yang seharusnya ia hadapi. Dengan demikian dapat dibayangkan, program fullday akan melahirkan produk anak didik yang jauh dari kehidupan nyata. Sadar dengan urusan akademis tapi buta dengan urusan dunia luarnya. Bermain dengan segudang rumusan dalil dan teori namun tidak kritis dengan fenomena yang terjadi di sekitar lingkungannya. Ia keluar dari pabrik bernama sekolah bak sebuah robot yang digerakan dengan remot kontrol, tiada kemandirian (demikian bila meminjam bahasa-bahasa Ivan Illich atau Paulo Freire tentang dunia pendidikan).</p>
<p>Tidak jarang dijumpai, apa yang didapatkan (anak didik) di sekolah bertentangan dengan kenyataan yang ada di luarnya. Menurut hemat saya, tawuran antarpelajar muncul bahkan karena sekolah tempatnya belajar telah membentuk sikap egois yang menganggap teman itu hanya yang satu sekolah saja. Anak lain yang tidak sama sekolahnya lalu dianggap sebagai musuh. Hal ini disebabkan karena mereka terbiasa dan dibentuk oleh suasana akademis masing-masing, sehingga sulit menerima perbedaan atau realitas yang ada. Dari sini, belum tentu dengan program fullday di sekolah akan dapat menghindari tawuran antarpelajar di sekolah. Bukankah tawuran antarpelajar selama ini sering dalam keadaan memakai seragam, dan waktu belajar di sekolah?.</p>
<p><span style="color:#800000;">Sekolah Kehidupan</span></p>
<p>Berangkat dari persoalan di atas, saatnya anak didik diberikan kesadaran akan adanya &#8220;sekolah kehidupan&#8221;. Sekolah yang ada bukan hanya berbentuk huruf &#8220;L&#8221; atau &#8220;U&#8221; dengan segudang peraturan di dalamnya. Yang terkadang juga membuat bingung para orang tua karena banyaknya urusan yang harus dipenuhi. Sekolah kehidupan adalah realitas baik-buruk yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang (akan) menghadapi dan menjalaninya. Fenomena kehidupan yang ada berfungsi mendewasakan pikiran untuk menentukan sebuah pilihan hidup di antara proses berpikir yang dianugerahi Tuhan.</p>
<p>Setiap orang diberikan kebebasan untuk belajar di sekolah kehidupan dan dengan itu menentukan jalan hidupnya. Dalam sekolah kehidupan yang menjadi materi pembelajaran adalah baik-buruk realitas itu sendiri, dan yang menjadi guru adalah pribadi masing-masing. Oleh sebab itu tidak ada yang patut bertanggung jawab dan disalahkan dalam menentukan sebuah pilihan yang telah ditetapkan oleh masing-masing individu. Dengan demikian manusia dituntut mengadakan interaksi dengan lingkungannya, belajar dari pengalamannya, dan merancang masa depannya. Realitas yang ada itulah yang menjadi basis bagi sekolah kehidupan.</p>
<p>Sulit untuk dipungkiri bahwa, di sekolah kehidupan inilah tempat di mana setiap orang ditentukan sukses atau gagal. Banyak orang yang pintar, berprestasi, memiliki bermacam gelar, tapi banyak pula yang gagal menerima kenyataan kehidupan yang harus dihadapinya. Dia gagal di sekolah kehidupan. Karena ia tidak memiliki persiapan untuk itu. Sebaliknya, banyak pula orang yang sukses dalam sekolah kehidupan ini meskipun prestasinya di sekolah (dalam arti sesungguhnya) biasa-biasa saja. Karena mereka sadar dengan realitas yang dihadapinya sehingga ia tahu benar bagaimana pula cara menghadapinya.</p>
<p>Jelas sudah, bahwa lembaga sekolah bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan dan kunci keberhasilan seseorang. Dengan demikian, sudah saatnya anak didik dikembalikan kepada realitas kehidupan dengan pengajaran atau Manajemen yang Berbasiskan Realitas (MBR) di sekolah, serta diberikan waktu yang cukup baginya untuk belajar dari realitas itu. Agar anak didik setelah ke luar dari sekolah tidak gagap menerima kenyataan yang ada.</p>
<p><span style="color:#800000;">Sebuah Alternatif</span></p>
<p>Ahli pendidikan dari Brazil, Paulo Freire (1999), lewat pemikiran kritisnya terhadap sistem belajar di sekolah setidaknya menyadarkan kita. Menurut Freire, pendidikan di sekolah selama ini telah menjadikan anak didik sebagai manusia-manusia yang terasing dan tercerabut dari realitas dirinya sendiri dan realitas dunia sekitarnya. Karena sekolah telah mengajarkan anak didik menjadi seperti (orang lain) bukan bagaimana menjadi dirinya sendiri. Ia hanya diberikan kemampuan merubah &#8220;penafsiran&#8221; seseorang untuk situasi yang dihadapinya, namun tidak mampu merubah &#8220;realitas&#8221; dirinya sendiri. Oleh sebab itu, bagi Freire, penting bagi anak didik untuk diberi kesempatan mengadakan interaksi dan dialektika dengan sebuah realita yang lebih membebaskan.</p>
<p>Ivan Illich (2000) lewat bukunya Deschooling Society bahkan melihat perlunya masyarakat dibebaskan dari belenggu sekolah. Yaitu suatu kebebasan dari kecendrungan masyarakat yang menganggap bahwa sekolah hanyalah satu-satunya sebagai lembaga pendidikan dan sumber pengetahuan ilmu. Untuk itu, untuk menolong anak didik memiliki kesadaran akan sebuah realitas, maka lembaga sekolah yang ada harus memberikan pengajaran yang berbasiskan realitas kehidupan. Bukan jauh dari realitas atau antirealitas.</p>
<p>Suatu realitas yang ditangkap dengan intelek akan selalu berubah terus, dinamis dan bersifat terbatas, baik dari sudut waktu, ruang maupun bidangnya (Musa Asy&#8217;arie, Kompas, 9 Juli 2002). Sebab itu teori atau rumusan dalil yang dipelajari dan diberikan kepada anak didik di sekolah tidak bisa diandalkan sepenuhnya untuk menghadapi realitas itu. Yang diperlukan adalah bagaimana pemahaman anak didik terhadap realitas, bukan bagaimana menghafal teori-teori dan rumusan dalil yang belum tentu sesuai dengan realitas itu sendiri. Untuk mendukung ke arah itu, tentu anak didik diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan realitas. Bukan sebaliknya terkungkung dengan suasana akademis seharian.</p>
<p>Bukankah fungsi pendidikan pada hakikatnya menolong setiap individu anak didik agar mampu menjadi anggota masyarakat yang baik serta berhasil guna dengan cara mengajarkan pengalaman masa lalu dan pengalaman masa kini kepadanya. Bagaimana mungkin akan diajarkan pengalaman masa lalu dan masa kini bila anak didik sendiri jauh dari praktek (realitas) tempat di mana pengalaman itu berlangsung. Dan pengalaman akan dinamakan pengalaman bila setiap orang pernah melalui dan merasakannya, yaitu dalam sebuah kenyataan hidup.</p>
<p>Berangkat dari pandangan seperti ini, maka gagasan program fullday sangatlah kurang &#8211;kalau tidak setuju dikatakan tidak&#8211; sesuai dengan prinsip realitas kehidupan yang selalu berubah dan dinamis. Kehidupan yang akan dilalui bagi anak didik ke depan bukanlah kehidupan yang dibentuk oleh sebuah kondisi sekolah, lebih dari itu beraneka corak realitas akan ditemuinya. Dengan demikian, saatnya sekolah melakukan gerakan kesadaran tentang adanya sebuah realitas kehidupan (&#8220;sekolah kehidupan&#8221;) yang menentukan sebuah keberhasilan dan kesuksesan, tentu, dengan cara &#8220;mengembalikan&#8221; anak-anak ke realitas kehidupan itu sendiri</strong></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khaciiandech.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khaciiandech.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khaciiandech.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khaciiandech.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khaciiandech.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khaciiandech.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khaciiandech.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khaciiandech.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khaciiandech.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khaciiandech.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khaciiandech.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khaciiandech.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khaciiandech.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khaciiandech.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=133&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/sekolah-berbasis-realitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a077d9caa1acb3c0a7a518108f2b3ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khaciiandech</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Artikel:bila orang kaya menyerbu sekolah negeri akan dikemanakan mereka yang tidak punya uang???</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/artikelbila-orang-kaya-menyerbu-sekolah-negeri-akan-dikemanakan-mereka-yang-tidak-punya-uang/</link>
		<comments>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/artikelbila-orang-kaya-menyerbu-sekolah-negeri-akan-dikemanakan-mereka-yang-tidak-punya-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 09:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khaciiandech</dc:creator>
				<category><![CDATA[education ..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khaciiandech.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Artikel: Bila Orang Kaya Menyerbu Sekolah Negeri, Akan Dikemanakan Mereka Yang Tidak Punya Uang? Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan. Nama &#38; E-mail (Penulis): Nirma Marina Lestari Saya Mahasiswi di Atma Jaya Tanggal: 26/07/2003 Judul Artikel: Bila Orang Kaya Menyerbu Sekolah Negeri, Akan Dikemanakan Mereka Yang Tidak Punya Uang? Ibu saya kebetulan memiliki 2 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=131&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel: Bila Orang Kaya Menyerbu Sekolah Negeri, Akan Dikemanakan</p>
<p><span style="color:#339966;">Mereka Yang Tidak Punya Uang? Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan. Nama &amp; E-mail (Penulis): Nirma Marina Lestari Saya Mahasiswi di Atma Jaya Tanggal: 26/07/2003 Judul Artikel: Bila Orang Kaya Menyerbu Sekolah Negeri, Akan Dikemanakan Mereka Yang Tidak Punya Uang? Ibu saya kebetulan memiliki 2 sekolah menengah di Kota Depok, Jawa Barat. Satu sekolah di jenjang SLTP &amp; SMU dan dibangun sejak tahun 1984, kemudian satu lagi baru 3 tahun berdiri dan berada di jenjang TK-SD-SLTP-SMU &amp; SMK Broadcast pertama di Indonesia, keduanya berstatus &#8220;Disamakan&#8221;. Sebagai anaknya, saya tentu diminta untuk selalu ikut &#8220;bergabung&#8221; mengurusi management kedua sekolah ini sehari-harinya meskipun saya masih berstatus mahasiswi walau Insya Allah akan lulus sebentar lagi. Banyak hal yang saya pelajari dan saya perhatikan mengenai masalah-masalah pendidikan. Salah satu yang saya perhatikan adalah mengenai pola pikir masyarakat terhadap sekolah yang dinamakan &#8220;Sekolah Negeri&#8221;. Sekolah Negeri pada dasarnya seperti yang kita ketahui adalah sekolah yang semua penyelenggaraannya diadakan oleh dan atas dana dari Pemerintah Dari mulai biaya pembangunan gedung, penyediaan fasilitas, biaya belanja ATK, pembayaran listrik, telefon, gaji guru dan karyawan yang semua adalah PNS. Di negara lain pun sekolah negeri adalah milik pemerintah dan semua dana berasal dari pemerintah. Sekolah swasta pada dasarnya adalah dibangun untuk membantu pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak bangsa ini, membantu dalam menyediakan daya tampung, membantu mengurangi Anggaran Pengeluaran/Belanja Pendidikan dari mulai anggaran gaji guru, anggaran sarana prasarana sekolah, dan lain-lainnya. Sekolah Negeri karena dibiayai oleh pemerintah SEHARUSNYA, layaknya negara-negara lain-khususnya negara maju, GRATIS/ BEBAS BIAYA bagi semua siswanya. Kalau pun kita harus membayar selayaknya tidaklah besar jumlahnya, sekedar membantu kesejahteraan guru atau pengembangan SDM pengajar dan para siswa atau operasional seadanya. Sementara Swasta, Karena semua bantuan tadi memerlukan banyak biaya dan biaya ini datangnya dari pemilik sekolah, tentu tidaklah heran apabila untuk bisa menikmatinya siswa harus membayar sejumlah biaya yang besarnya bervariasi tergantung keadaan sekolahnya. Sekolah swasta ini hadir dengan berbagai macam keadaan untuk melayani masyarakat dari yang berpenghasilan rendah menengah sampai yang berpenghasilan tinggi. Sekolah Negeri karena berbiaya rendah seharusnya ditujukan bagi siswa dari masyarakat/keluarga yang berpenghasilan KECIL, baik bagi mereka yang mempunyai intelegensia tinggi sampai yang tergolong biasa-biasa saja! Sementara bagi mereka yang berpenghasilan tinggi, diharapkan masuk ke sekolah-sekolah swasta! TAPI APA YANG TERJADI?! Semakin hari semakin bisa kita lihat, dan diantara anda pasti ada pula yang merasakan, bahwa saat ini justru sebagian besar dari masyarakat kita berpola pikir &#8220;NEGERI MINDED&#8221;..apa pula istilah itu? &#8220;NEGERI MINDED&#8221; menurut kami adalah pola pikir yang terbentuk dalam benak masyarakat, baik yang kaya maupun miskin, dimana mereka menganggap bahwa sekolah negeri is the best, is everything, so proudly. Akan sangat membanggakan apabila anak-anak mereka bisa diterima di dalam sekolah negeri. Pola pikir semacam itu terasa kental sekali pada masyarakat yang akan memasuki jenjang pendidikan khususnya SLTP dan SMU! Bahkan yang di Universitas sekalipun! Semua orang berbondong-bondong menyerbu kesana. Termasuk yang kaya sekalipun! Bangku yang seharusnya bisa diisi oleh semua siswa yang orang tuanya tidak mampu, ikut diperebutkan oleh mereka yang mampu secara finansial. Keadaan lebih diperburuk dengan adanya KOLUSI dan NEPOTISME. Kami menemukan di lapangan/banyak sekolah negeri dimana banyak orang tua siswa yang rela untuk menyogok Jutaan Rupiah agar bisa masuk kesana. (disini saya bicara 5-10 juta rupiah seperti kenyataan yang kami temukan di lapangan dan SPP sekitar Rp 150.000,-)! Yang resmi diterima saja dikenakan uang masuk sekitar 2-3 juta per siswa! Padahal uang 2-10 juta itu bisa digunakan untuk bersekolah di swasta yang notabene fasilitasnya lebih lengkap. Sekarang kalau sekolah negeri penuh dengan siswa dengan orang tua berpenghasilan tinggi, lalu akan pergi kemana mereka yang tidak mempunyai uang? sekolah mana yang tersisa buat mereka? swasta? semurah-murahnya swasta seharusnya Negeri jauh lebih murah karena alasan pembiayaan pemerintah tadi! Akankah kita/anda sekalian tega membiarkan mereka sudah jatuh tertimpa tangga pula? Saya ingat perkataan ibu saya yang demikian,&#8221;Kalau orang tuanya jadi tukang bakso, anaknya boro-boro jadi juragan bakso, yang ada jadi lebih buruk dari tukang bakso! Karena boro-boro mau lebih maju, sekolah saja tidak dapat tempat!&#8221; Alasan klasik mereka yang masuk sekolah negeri adalah kebanyakan mengatakan bahwa mutu pendidikan disana lebih baik. Siapa bilang demikian? anda bisa melihat kenyataan contohnya di sekolah-sekolah swasta khususnya yang elit di Jakarta, misalnya, Pelita Harapan, Al Izhar, Santa Ursula, dll&#8230; Lulusan mereka hampir semuanya bagus-bagus, bahkan kalau indikator yang anda pakai adalah NEM (sekarang nilai UAN), justru nilai tertinggi seringkali didapat oleh siswa swasta. Begitu pula di Universitas Swasta, banyak lulusannya yang menjadi orang berhasil. Negeri atau Swasta tidak masalah. Semua itu tergantung diri masing-masing, apakah mereka MAU belajar dengan baik atau tidak. Oleh karena itu, saya menghimbau kepada Anda semua yang kira-kira berpenghasilan yang cukup untuk membiayai anak-anak Anda ke sekolah swasta, sekolahkanlah mereka di sekolah swasta. Berikanlah kesempatan bagi mereka yang kurang beruntung untuk bisa ikut merasakan dan menikmati pendidikan seperti Anda dan anak Anda semua. Dengan demikian anda turut secara nyata membantu proses pencerdasan bangsa ini.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khaciiandech.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khaciiandech.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khaciiandech.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khaciiandech.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khaciiandech.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khaciiandech.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khaciiandech.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khaciiandech.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khaciiandech.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khaciiandech.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khaciiandech.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khaciiandech.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khaciiandech.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khaciiandech.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=131&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/30/artikelbila-orang-kaya-menyerbu-sekolah-negeri-akan-dikemanakan-mereka-yang-tidak-punya-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a077d9caa1acb3c0a7a518108f2b3ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khaciiandech</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia kehabisan guru ..</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/indonesia-kehabisan-guru/</link>
		<comments>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/indonesia-kehabisan-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 10:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khaciiandech</dc:creator>
				<category><![CDATA[education ..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/indonesia-kehabisan-guru/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel: Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum. Nama &#38; E-mail (Penulis): Mochammad Asyhar Saya Mahasiswa di Depok Tanggal: 04/11/2002 Judul Artikel: Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru Topik: Kebijakan Pendidikan Artikel: Hari-hari terakhir ini sedang gencar ditayangkan dua iklan layanan masyarakat di setasiun-stasiun televisi, baik TVRI maupun stasiun televisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=129&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pendidikan.net/"><img src="http://re-searchengines.com/judul.gif" border="0" alt="" /></a></p>
<h2><span style="color:#000099;">Artikel:<br />
Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru </span></h2>
<p><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong> Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.<br />
Nama &amp; E-mail (Penulis): <a href="mailto:masyhar@hotmail.com">Mochammad Asyhar</a><br />
Saya Mahasiswa di Depok<br />
Tanggal: 04/11/2002<br />
Judul Artikel: Tahun 2020 Indonesia Kehabisan Guru<br />
Topik: Kebijakan Pendidikan </strong></span></p>
<p><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Artikel: </strong> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"> Hari-hari terakhir ini sedang gencar ditayangkan dua iklan layanan masyarakat di setasiun-stasiun televisi, baik TVRI maupun stasiun televisi swasta. Iklan yang satu berisi pesan tentang anak asuh dan yang lain melukiskan kekurangan guru di negeri kita tercinta ini. Walaupun hanya berdurasi beberapa detik, kedua iklan ini cukup mengundang perhatian, terutama iklan yang disebutkan terakhir.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Kekurangan guru. Sungguh sebuah realitas potret pendidikan kita (salah satu sisi) yang sangat menyedihkan. Betapa tidak, pendidikan adalah modal utama terciptanya kemajuan peradaban sebuah bangsa. Di pihak lain, guru sebagai tenaga profesional di bidang ini justru jumlahnya semakin langka.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Lalu, apa jadinya jika pada tahun-tahun mendatang tidak mudah dijumpai sosok guru? Barangkali Anda semua sudah tahu jawabannya. Sudah pasti peradapan kebudayaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini semakin parah daripada kondisi sekarang. Mengapa sampai terjadi kondisi seperti ini?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">KILAS BALIK<br />
Keadaan pendidikan seperti dipaparkan pada bagian sebelumnya tentu tidak terjadi bagitu saja. Hal itu pasti ada pemicunya. Penyebab kekeurangan guru yang akan saya paparkan di sini bukan berasal dari hasil penelitian mendalam, tetapi sekadar pengamatan sekilas dan dugaan. Penyebab penurunan jumlah sumber daya manusia (SDM), dalam hal ini guru, akhir-akhir adalah ditutupnya lembaga-lembaga pendidikan keguruan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Pada paruh pertama tahun 1990-an semua Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Pendidikan Guru Agama (PGA) ditutup. Penutupan lembaga pendidikan tersebut beralasan bahwa jenjang pendidikan dasar sudah tidak layak lagi diajar oleh guru-guru tamatan SPG yang notabene hanya berjenjang pendidikan menengah. Sebagai gantinya dibukalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Selain itu, sebelum penutupan lembaga-lembaga pendidikan keguruan itu didahului dengan lahirnya sebuah kebijakan yang menetapkan bahwa lulusan SPG tidak otomatis atau langsung diangkat sebagai pegawai negeri, kecualai beberapa orang siswa berprestasi pada tiap angkatan. Akibatnya, banyak lulusan SPG yang beralih ke profesi lain, misalnya pekerja pabrik atau tambak. Fakta seperti ini sangat disayangkan karena para siswa SPG adalah siswa pilihan. Lulusan SLTP yang dapat diterima di SPG adalah siswa yang mempunyai NEM minimum 42,00 dan harus melalui ujian saringan yang bertahap-tahap. Hal itu menunjukkan bahwa yang dapat d iterima di SPG adalah manusia-manusia cerdas dan pilihan. Jadi, mereka sebenarnya adalah tenaga-tenaga potensial.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Berikutnya, menjelang akhir tahun 2000, semua IKIP di Indonesia berubah menjadi universitas meskipun masih ada beberapa STKIP dan FKIP di universitas-universitas. Perubahan status ini tentunya diikuti juga perubahan visi dan misi. Semula berstatus Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK)sebagai pencetak tenaga-tenaga pendidik profesional berubah menjadi universitas yang mencetak sarjana-sarjana ilmu murni. Barangkali kebijakan ini bertujuan untuk mencapai target sarjana-sarjana andal di bidang IPTEK dalam rangka menyongsong lahirnya Negara Indonesia sebagai negara maju berbasis teknologi. Obsesi seperti ini sangat bagus. Akan tetapi, penyakit latah bangsa Indonesia ini sukar sekali hilang. Artinya, pada waktu kibijakan perubahan status IKIP menjadi universitas itu disetujui, seharusnya beberapa IKIP di Jawa, Sumatera dan Sulawesi yang sudah berkualitas tetap dipertahankan. Dengan demikian, jumlah guru nantinya tetap tercukupi karena sampai kapan pun sektor pendidikan di sebu ah bangsa tidak akan ditutup. Hal itu berarti bahwa sampai kapan pun tenaga guru masih dibutuhkan.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">APA SOLUSINYA<br />
Kekurangan guru, seperti diilustrasikan dalam iklan layanan masyarakat di televisi, baru terjadi pada jenjang pendidikan dasar. Apabila diamati, fenomena ini cukup realistis menggingat penutupan SPG dan PGA sudah hampir sepuluh tahun yang lalu. Lulusan PGSD pun tidak semuanya dapat diterima sebagai pegawai negeri. Sementara itu, pada jenjang pendidikan menengah fenomena kekurangan guru masih belum terasakan. Hal itu wajar karena penutupan IKIP-IKIP baru dua tiga tahun terakhir. BISAKAH ANDA BAYANGKAN PADA TAHUN 2020 MENDATANG?</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Untuk mengatasi persoalan kekurangan guru pada jenjang pendidikan dasar, barangkali buah pikiran saya ini dapat dijadikan bahan diskusi. Setelah kebijakan yang menghentikan pengangkatan tenaga guru sekolah dasar (SD), banyak lulusan SPG atau PGA beralih profesi ke bidang lain. Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi mengingat mereka adalah tenaga-tenaga pilihan. Ditambah lagi oleh sistem penerimaan mahasiswa PGSD. Dari awal dibukanya, PGSD menerima mahasiswa dari lulusan SMA. Materi soal tesnya pun disesuaikan dengan standar pengajaran di SLTA umum. Tentu saja hal ini merupakan kendala bagi lulusan SPG atau PGA untuk bersaing dengan lulusan SMA karena materi yang diajarkan di SLTA umum dan kejuruan sudah barang tentu berbeda. Akhirnya, para lulusasan SPG jarang yang diterima.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Pada saat perekrutan mahasiswa PGSD seharusnya yang diutamakan terlebih dahulu adalah lulusan SPG atau PGA. Baru kemudian setelah semua lulusan SPG atau PGA ini sudah habis, perekrutan dibuka untuk lulusan SMA.</span></p>
<p><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;">Akhirnya, untuk mengatasi persoalan kekurangan guru SD, mengapa tidak dicoba untuk memanggil kembali lulusan SPG dan PGA yang belum sempat diterima sebagai guru negeri? Beri mereka beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di PGSD atau STKIP. Setelah lulus langsung diangkat sebagai tenaga guru negeri.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khaciiandech.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khaciiandech.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khaciiandech.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khaciiandech.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khaciiandech.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khaciiandech.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khaciiandech.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khaciiandech.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khaciiandech.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khaciiandech.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khaciiandech.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khaciiandech.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khaciiandech.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khaciiandech.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=129&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/indonesia-kehabisan-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a077d9caa1acb3c0a7a518108f2b3ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khaciiandech</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://re-searchengines.com/judul.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>pendidikan yang bermoral ..</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/pendidikan-yang-bermoral/</link>
		<comments>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/pendidikan-yang-bermoral/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 10:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khaciiandech</dc:creator>
				<category><![CDATA[education ..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/pendidikan-yang-bermoral/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel: PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION. Nama &#38; E-mail (Penulis): Amirul Mukminin Saya Dosen di UPT &#8211; Kebahasaan UNJA/ASM Jambi, Manager LPK Bahasa Inggris-MEC Tanggal: 23 January 2003 Judul Artikel: PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL Topik: Pendidikan Nasional Artikel: Oleh Amirul Mukminin Memang harus kita akui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=127&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pendidikan.net/"><img src="http://re-searchengines.com/judul.gif" border="0" alt="" /></a></p>
<h2><span style="color:#000099;">Artikel:<br />
PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL </span></h2>
<p><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong> Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.<br />
Nama &amp; E-mail (Penulis): <a href="mailto:Amirmuk@yahoo.com">Amirul Mukminin</a><br />
Saya Dosen di UPT &#8211; Kebahasaan UNJA/ASM Jambi, Manager LPK Bahasa Inggris-MEC<br />
Tanggal: 23 January 2003<br />
Judul Artikel: PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL<br />
Topik: Pendidikan Nasional </strong></span></p>
<p><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Artikel: Oleh Amirul Mukminin </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus (masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002 akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang &#8211; menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL<br />
Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi walaupun memakan waktu lama. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (saya tidak ingin mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun kenyataanya demikian di masyarakat). Lalu apa hubungannya Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi Penerus? Hubungannya sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk menyiapkan sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Apa yang telah terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai sumbangan pendidikan nasional kita selama ini. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif semuanya orang-orang yang berpendidikan bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Contoh lainnya, dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak).</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan (&#8220;bangsat&#8221;) dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya (untungsnya, NEM sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang saya maksud adalah pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral. Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik kearah kedewasaan, kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun, berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral pula. Dimana ketika berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan di SD sampai PT sang pendidik harus memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai PT memiliki sifat-sifat seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Kedua, Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya terpaku pada perubahan kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas. Misalkan kurikulum sudah dirubah, anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas sudah dilengkapi dan gaji guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik (guru atau dosen) dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum memiliki sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan akibat yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda akan sama seperti sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi menyudutkan guru atau dosen dan birokrat pendidikan serta pembuat kebijakan sebagai penyebab terpuruknya proses pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku menyimpang dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau menginginkan generasi seperti diatas. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Selain itu, anggaran pendidikan yang tinggi belum tentu akan mengubah dengan cepat kondisi pendidikan kita saat ini. Malah anggaran yang tinggi akan menimbulkan KKN yang lebih lagi jika tidak ada kontrol yang ketat dan moralitas yang tinggi dari penguna anggaran tersebut. Dengan anggaran sekitar 6% saja KKN sudah merajalela, apalagi 20-25%.</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Ketiga, Berlaku adil dan Hilangkan perbedaan. Ketika saya masih di SD dulu, ada beberapa guru saya sangat sering memanggil teman saya maju kedepan untuk mencatat dipapan tulis atau menjawab pertanyaan karena dia pintar dan anak orang kaya. Hal ini juga berlanjut sampai saya kuliah di perguruan tinggi. Yang saya rasakan adalah sedih, rendah diri, iri dan putus asa sehingga timbul pertanyaan mengapa sang guru tidak memangil saya atau yang lain. Apakah hanya yang pintar atau anak orang kaya saja yang pantas mendapat perlakuan seperti itu.? Apakah pendidikan hanya untuk orang yang pintar dan kaya? Dan mengapa saya tidak jadi orang pintar dan kaya seperti teman saya? Bisakah saya jadi orang pintar dengan cara yang demikian?</strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Dengan contoh yang saya rasakan ini (dan banyak contoh lain yang sebenarnya ingin saya ungkapkan), saya ingin memberikan gambaran bahwa pendidikan nasional kita telah berlaku tidak adil dan membuat perbedaan diantara peserta didik. Sehingga generasi muda kita secara tidak langsung sudah diajari bagaimana berlaku tidak adil dan membuat perbedaan. Jadi, pembukaan kelas unggulan atau kelas akselerasi hanya akan membuat kesenjangan sosial diantara peserta didik, orang tua dan masyarakat. Yang masuk di kelas unggulan belum tentu memang unggul, tetapi ada juga yang diunggul-unggulkan karena KKN. Yang tidak masuk kelas unggulan belum tentu karena tidak unggul otaknya tapi karena dananya tidak unggul. Begitu juga kelas akselerasi, yang sibuk bukan peserta didik, tapi para orang tua mereka mencari jalan bagaimana supaya anaknya bisa masuk kelas tersebut. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Kalau mau membuat perbedaan, buatlah perbedaan yang bisa menumbuhkan peserta didik yang mandiri, bermoral. dewasa dan bertanggungjawab. Jangan hanya mengadopsi sistem bangsa lain yang belum tentu cocok dengan karakter bangsa kita. Karena itu, pembukaan kelas unggulan dan akselerasi perlu ditinjau kembali kalau perlu hilangkan saja. </strong></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:arial;font-size:x-small;"><strong>Contoh lain lagi , seorang dosen marah-marah karena beberapa mahasiswa tidak membawa kamus. Padahal Dia sendiri tidak pernah membawa kamus ke kelas. Dan seorang siswa yang pernah belajar dengan saya datang dengan menangis memberitahu bahwa nilai Bahasa Inggrisnya 6 yang seharusnya 9. Karena dia sering protes pada guru ketika belajar dan tidak ikut les dirumah guru tersebut. Inikan! contoh paling sederhana bahwa pendidikan nasional kita belum mengajarkan bagaimana berlaku adil dan menghilangkan Perbedaan. </strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khaciiandech.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khaciiandech.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khaciiandech.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khaciiandech.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khaciiandech.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khaciiandech.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khaciiandech.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khaciiandech.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khaciiandech.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khaciiandech.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khaciiandech.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khaciiandech.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khaciiandech.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khaciiandech.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=127&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/pendidikan-yang-bermoral/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a077d9caa1acb3c0a7a518108f2b3ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khaciiandech</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://re-searchengines.com/judul.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>{untuk seorang sahabat}</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/untuk-seorang-sahabat/</link>
		<comments>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/untuk-seorang-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 10:32:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khaciiandech</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi quh ..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khaciiandech.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[[Untuk Seorang Sahabat] Mungkin waktu kan terus berlalu, membawa buih-buih pergi menjauh. Dan manusia hanyalah butir pasir berserak di hamparan zaman, yang mengikuti kemana angin takdir berhembus. Dan mungkin waktu melapukkan batu, membuat besi menjadi karat; Mengubah dunia menjadi tidak seperti yang kita kira dan angankan. Walau sungguh pun waktu berkuasa, persahabatan sejati takkan mudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=120&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-121" title="24926" src="http://khaciiandech.files.wordpress.com/2009/04/24926.jpg?w=460" alt="24926"   /></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><span style="color:#08f6b8;">[Untuk Seorang Sahabat]</p>
<p>Mungkin waktu kan terus berlalu, membawa buih-buih pergi menjauh. Dan manusia hanyalah butir pasir berserak di hamparan zaman, yang mengikuti kemana angin takdir berhembus. Dan mungkin waktu melapukkan batu, membuat besi menjadi karat; Mengubah dunia menjadi tidak seperti yang kita kira dan angankan. Walau sungguh pun waktu berkuasa, persahabatan sejati takkan mudah pudar olehnya.</p>
<p>Akan kenangan saat mimpi-mimpi bersemi semerbak, dan akan kenangan saat mimpi-mimpi terhempas berkeping di jalan berlubang kehidupan &#8212; dan kau ada di sana sebagai sahabat yang memahami segala keluh kesah. Atas kebaikan yang mungkin tidak kau sadari, oleh sekedar canda yang membuat hidup ini lebih memiliki arti; menjauhkan rasa nyeri sedari.</p>
<p>Dan sahabat, jika apa yang kita miliki memang persahabatan yang tulus, maka ada tali silaturahmi yang mesti kita jaga. Walau jarak merenggangkan ikatan, dan harapan-harapan membawa kita berlayar ke negeri-negeri asing; ketahuilah bahwa ada seorang sahabat yang akan membantumu jika engkau membutuhkannya.</p>
<p>Kado ini tak lebih berharga ketimbang kebaikanmu selama ini. Hanya sekeping tanda mata agar kau tak lupa, bahwa ada – ada bahagia untuk menjadi seorang saudara.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khaciiandech.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khaciiandech.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khaciiandech.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khaciiandech.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khaciiandech.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khaciiandech.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khaciiandech.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khaciiandech.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khaciiandech.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khaciiandech.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khaciiandech.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khaciiandech.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khaciiandech.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khaciiandech.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=120&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/untuk-seorang-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a077d9caa1acb3c0a7a518108f2b3ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khaciiandech</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://khaciiandech.files.wordpress.com/2009/04/24926.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">24926</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>W@ktu ..</title>
		<link>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/wktu/</link>
		<comments>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/wktu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 10:20:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>khaciiandech</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi quh ..]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://khaciiandech.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[WAKTU Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?…. Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur. Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim. Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya. Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=117&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-118" title="143231" src="http://khaciiandech.files.wordpress.com/2009/04/143231.jpg?w=117&#038;h=150" alt="143231" width="117" height="150" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">WAKTU</p>
<p>Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….<br />
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.</p>
<p>Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.<br />
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.</p>
<p>Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,<br />
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.</p>
<p>Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.</p>
<p>Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?<br />
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?</p>
<p>Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.</span></p>
<p style="text-align:center;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/khaciiandech.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/khaciiandech.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/khaciiandech.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/khaciiandech.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/khaciiandech.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/khaciiandech.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/khaciiandech.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/khaciiandech.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/khaciiandech.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/khaciiandech.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/khaciiandech.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/khaciiandech.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/khaciiandech.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/khaciiandech.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=khaciiandech.wordpress.com&amp;blog=7018675&amp;post=117&amp;subd=khaciiandech&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://khaciiandech.wordpress.com/2009/04/29/wktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a077d9caa1acb3c0a7a518108f2b3ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">khaciiandech</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://khaciiandech.files.wordpress.com/2009/04/143231.jpg?w=117" medium="image">
			<media:title type="html">143231</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
